Generasi milenial saat ini menjadi sebuah generasi yang sering di bicarakan di segala aspek dan lini. Tak hanya dari aspek ekonomi dan sosial saja generasi milenial ini menjadi primadona, namun di ranah politik generasi milenial menjadi seperti sosok yang harus diperebutkan perhatiannya.
Tak heran memang mengapa generasi milenial saat ini menjadi sebuah arus perhatian yang begitu kencangnya. Generasi milenial sendiri merupakan generasi yang terlahir di antara tahun 1980-2000.
Istilah generasi millenial ini sendiri di cetuskan oleh dua orang yang merupakan seorang pakar sejarah sekaligus penulis Amerika, William Straus dan Neil Howe di beberapa buku tulisannya.
Generasi millenial memiliki 9 ciri yang dapat kita ketahui melalui perilaku yang sering ditampilkannya. Bebrapa ciri tersebut diantaranya adalah
1. Menggandrungi Internet
Generasi yang lahir di saat internet mulai berkembang ini menjadikan para generasi ini familiar dengan kemajuan dunia internet saat ini. Sedangkan presentasi pengguna internet di indonesia sendiri sebagian besar di dominasi oleh generasi milenial.
Tak hanya itu saja begitu gandrungnya penggunaan internet yang di lakukan oleh generasi milenial ini diantaranya adalah penggunaan smartphone yang selalu ada ditangan. Dimana pun dan kapanpun smartphone menjadi alat mereka untuk kemana saja. Bahkan saat berkumpul atau memberikan sebuah pelatihan maka internet yang dilihat dari ponsel adalah guide terbaik yang mereka miliki.
2. Gampang berpindah minat
Karena kemudahan akses informasi yang di terima oleh generasi milenial membuat mereka kesulitan untuk bertahan lama dengan satu barang yang mereka miliki. Selain karena mudahnnya mereka untuk melihat referensi di dunia maya, faktor sosial di lingkungan sekitarnya juga kerap menjadi faktor penentu mudahnya mereka mengganti barang atau sesuatu yang ada pada mereka.
3. Penggunaan pembayaran non cash semakin tinggi
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh media penerbit konten digital Brilio.net dan juga JakPat Mobile survey memperlihatkan fakta yang mencengangkan dimana sebanyak 59% generasi milenial menyukai penggunaan pembayaran non tunai.
4. Menyukai pengalaman dibandingkan kepemilikan
Ciri keempat yang dapat kita ketahui dari generasi milenial berdasarkan perilakunya adalah terkait dengan minat yang dimilikinya. Berdasarkan beberapa wawancara yang dilakukan penulis dengan kolega yang tergolong ke dalam golongan milenial, ada kecendrungan dimana mereka lebih menyukai untuk melakukan traveling dibandingkan uangnya di tabung untuk membeli aset properti.
Hal ini seiring dan seirama pernyataan dari Ignatius untung general manager rumah123.com yang mengatakan bahwasanya generasi milenial lebih tertarik untuk melakukan jalan-jalan di bandingkan beli rumah.
5. Kurang fokus
Disebabkan karena pilihan yang begitu banyaknya hingga angan-angan impian yang mereka miliki terkadang generasi milenial memiliki fokus yang kurang. Mereka cendrung untuk cepat bosan dalam menggapai apa yang diinginkan saat mereka menemukan hambatan.
Namun lebih daripada itu, kecendrungan generasi milenial yang kurang fokus ini juga berkenaan dengan referensi yang mudah untuk di akses baik itu melalui media sosial, maupun media lainnya.
6. Lebih pintar
Generasi milenial ditandai dengan generasi pintar, dimana segala informasi yang ditanyakan akan mudah untuk di jawab. Walaupun memang hal tersebut juga di bantu dengan kemudahan akses informasi yang di milikinya.
7. Multitasking
Kemampuan generasi milenial untuk dapat melakukan lebih dari 2-3 aktivitas dalam satu waktu sangat tinggi. Disatu sisi mereka ngobrol bersama rekan-rekannya di satu sisi mereka mengecek akun media sosial sembari membalas chatting dari orang lain.
8. Traveling
Seperti yang sebelumnya telah disebutkan bahwasanya generasi milenial lebih suka untuk mengeluarkan keuangannya untuk membelanjakan pengalaman dibandingkan properti. Salah satu belanja pengalaman yang bisa didapatkan adalah lewat melakukan traveling.
9. Senang Berbagi
Ciri terakhir dari generasi milenial yang dapat kita ketahui adalah minat mereka yang sangat senang untuk berbagi berbagai hal. Entah itu kabar berita, pencapaian, barang yang baru saja dimiliki, doa dan harapan, hingga aib pun senang sekali untuk di bagi. Baik itu di bagi di media sosial maupun secara langsung.
Begitu pentingnya memahami generasi milenial yang konon kabarnya merupakan generasi yang akan membawa estafet pembangunan bangsa kedepan sudah semestinya dilakukan. Maka jangan heran apabila kalangan milenial saat ini sudah mulai muncul di baliho-baliho untuk terjun dalam kontestasi perpolitikan saat ini.
Dan pada akhirnya setiap generasi memiliki ciri yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Oleh sebab itu perlakuan yang dilakukan pun tidak bisa disamakan dengan generasi sebelumnya.
Penulis: Muhamad Fadhol Tamimy (Penulis Buku Sharing mu Personal Branding Mu)
Selasa, 28 Agustus 2018
Kesetiaan
Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya
Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya - Siapa bilang (kebanyakan) yang tak setia (selingkuh) hanya dimiliki pria, tenyata wanita pun bisa bahkan lebih parah mungkin. Apakah ini suatu emansipasi wanita, hukum karma atau coban untuk para pria? Saya tak mengetahui, yang saya ketahui ialah Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya. Walau tak semua benar tapi alasan kebanyakan wanita selingkuh (mungkin) di bawah ini.
Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya:
Semoga dengan adanya posting tentang Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya kita bisa terlepas atau terhindar dari wanita selingkuh.
Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya:
- Tidak Perhatian
- Protektif
- Bosan
- Dendam
- Sifat Alami
- Kebiasaan
Semoga dengan adanya posting tentang Wanita Tak Setia? (Mungkin) Inilah Penyebabnya kita bisa terlepas atau terhindar dari wanita selingkuh.
pidato anak-anak singkat
Dewan juri yang saya hormati serta teman-teman yang saya
banggakan.
Assalamu’alaikum wr.wb.
Alhamdulillah wasyukurillah wasalatu wassalamu a'ala
rasulillah wala haula wala kuwata illah
billah.ama ba’du.
Pertama-tama marilah kita
mengucapkan tahmid dan tasyakur kehadirat Allah SWT karena masih dapat berkumpul di tempat di sini, dalam
rangka memperingati hari besar Isro’
Mi’raj Nabi Muhammad saw. Sholawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada
junjungan Nabi Muhammad saw karena dari beliaulah kita semua dapat mengetahui
ajaran-ajaran Islam , sehingga kita dapat membedakan yang haq dan bathil.
Kaum muslimin muslimat yang berbahagia.
Tidak terasa kita telah sampai pada bulan Rajab. Bulan
dimana terjadi suatu peristiwa yang sangat penting bagi umat Islam yaitu
peristiwa Isro’ Mi’raj, atas kehendak Allah SWT.
Menurut bahasa Isro’ itu berarti perjalanan di malam hari.
Akan tetapi secara syari’iyah isro’ adalah perjalanan malam hari yang dilakukan
oleh Rasulullah saw dari Masjidil Haram (di Mekkah) menuju ke Baitul Maqdis (di
palestina) yang penuh mengandung rahasia dan keajaiban. Hal ini telah
dijelaskan oleh Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Isro’ ayat 1 :
(subhaanalladzii asraa bi'abdihi laylan mina lmasjidi
lharaami ilaa lmasjidi l-aqshaalladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min
aayaatinaa innahu huwa ssamii'u lbashiir)
Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan
hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang
telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui.”.
Sedangkan Mi’raj menurut arti bahasa yaitu jenjang naik.
Akan tetapi yang dimaksud ialah naiknya Rasulullah saw dari Masjidil Aqso di
Baitul Maqdis, dengan menempuh angkasa luar, sehingga akhirnya sampai ke suatu
tempat yang paling tinggi bernama Sidratul Muntaha, suatu tempat yang tidak
mungkin di capai oleh manusia dengan kemajuan teknologi yang bagaimana pun
canggihnya kecuali oleh Nabi Muhammad saw. Disitulah Rasulullah saw menerima
langsung dari Allah SWT tentang solat lima waktu, yang harus dikerjakan olehnya
dan seluruh umatnya.
Kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allah.
Tujuan pokok dari di Isro’ Mi’raj Nabi Muhammad saw ini adalah dalam rangka
memberi kekuatan batin bagi Nabi Muhammad saw terhadap musibah serta siksaan
yang datangnya dari para musuh-musuh Islam sejak sepeninggal Abu Thalib, Abdul
Muthalib dan istri tersayangnya Siti Khodijah, dalam memperjuangkan cita-cita luhur,
mengajak seluruh umat manusia untuk beriman kepada Allah SWT di dalam naungan
Islam.
Dalam rangka memperingati Is’ra Mi’raj ini, maka amat
penting bagi kita untuk mengambil hikmahnya yaitu memperkuat keimanan serta
ketaqwaan kepada Allah dan kepada Nabi Muhammad saw. Disamping itu kita harus
menjalankan perintah Allah yaitu solat lima waktu.
Kaum muslimin muslimat yang dirahmati Allah.
Demikian pidato dari saya dalam rangka memperingati Isra’
Mi’raj yang terjadi pada tanggal 27 Rajab. Terimakasih atas segala perhatiannya
dan mohon maaf atas segala kekuarangan dan kekhilafan.
Akhirul kalam wabillahit taufiq walhidayat wassalamu
‘alaikum warohmatullohi wabarokaatuhu..
by Irfan fathurrohman
CIKAL BAKAL WALI QUTUB CIREBON SYARIF HIDAYAT
CIKAL BAKAL WALI QUTUB CIREBON SYARIF HIDAYAT.
Awal Lahirnya Pangeran Walangsungsang
Pada tahun ± 200 SM telah terjadi perpindahan bangsa tiga
kali ke Indonesia, yang terakhir terjadi perpindahan bangsa keling berjumlah
sekitar 20.000 keluarga yang dipimpin langsung oleh seorang pendeta dari
Bizantium (kerajaan Romawi Timur), ibu kota Constantinopel (Istambul) orang
Jawa menyebutnya Roma Turki.
Mereka mendarat di beberapa daerah di Jawa Barat di
antaranya Teluk Jakarta, Pulau Gadung, yang sekarang menjadi ibu kota negara
Republik Indonesia, di pinggir-pinggir kali Cisadane dan Citarum Bogor, dan di
Pesambangan Gunung Jati Cirebon Desa Jatimerta di Muarajati (Alas Konda), di
teluk Banten, dan Pelabuhan Ratu daerah Rawalakbok, Banjar dan Ciamis. Proses penyebaran
penduduk imigran ini terjadi pada tahun ± 87 M yang diawali tahun 1 (satu)
Babad Zaman (Ano Jawa).
Kemudian seiring waktu dengan perjalanan waktu ± 363 tahun
lamanya, laju pertumbuhan penduduk kian hari berkembang dengan pesat hingga
pada tahun 450 M di Jawa Barat berdirilah sebuah kerajaan Taruma Negara yang
terletak di daerah Cisadane Bogor. Raja tersebut bernama Purnawarman yang
tertulis pada sebuah prasasti di sungai Cisadane.[2]
Disusul kemudian pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula
kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang
diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada
petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi
Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.
Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan
oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan
memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya
adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian
secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:
Prabu Linggahiang
Prabu Linggawesi
Prabu Wastukancana
Prabu Susuk Tunggal
Prabu Banyak Larang
Prabu Banyakwangi
Prabu Anggalarang
Prabu Mundingkawati
Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama
Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia
mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri
Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas
Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:
Pangeran Walangsungsang (1423 M)
Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M)
Pangeran Raja Sengara (1429 M)
Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad /
membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.
Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran
ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang
yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.
Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M
keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu,
pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya
beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia
di dunia dan akhirat. Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas
Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk
berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun
gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi
yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis
Timur.
Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu
kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana.
Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia
menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala
malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy
dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi
wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi
Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan
akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub. Ratu Mas
Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu
ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang
terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.
Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang
ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia
menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi.
Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan
terkejut. Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati,
dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan juga para pembesar
kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih
Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang ,
disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala
menjawab: “Sendika Gusti.”
Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan
kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang ggeger dan panik,
lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan
bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara
memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar
ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang
dua putra mahkota Pajajaran.
-------------------------------------------------
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dengan gelar raja muda.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari
dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya
diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut
Caruban yang artinya campuran.
Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry
produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam.
Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan
darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap
dengan angkatan bersenjatanya. Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi
pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung
Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada
Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk
membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan
dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan
diteruskan oleh anak dari adiknya,
Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat.
Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka
agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui
berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro,
Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.
Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam
pertemuan tersebut.
Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa
kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang
bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon.
Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.
Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran
Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi
Syekh Maulana Magribi menolak untuk menjadi guru mereka.
Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada
Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi.
Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan
bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan
ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana,
kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.
Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi
tersebut terekam dalam Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.
Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian
menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada
tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan
keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya
kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu
Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan
lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama
Sunda.
Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang
Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.
Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan
oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang
merupakan cikal bakal kota Cirebon.
Pada tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka
atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan
1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52
orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir.
Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi
pedukuhan yang maju.
Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan
Rukun Islam kelima.
Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah
Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji
Abdullah Iman.
Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan
Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut,
Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota
Ismailiyah, Palestina.
Maulana Sultan Mahmud/Syarif Abdullah, yang baru saja
ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang.
Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan
mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran
Cakrabuana dan patih Jalalluddin.
Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang.
Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina
terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar
dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh.
Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu
Rarasantang bersedia dinikahi oleh Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia
melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin
agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.
Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang
Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang.
Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian
tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka
dengan Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.
Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan
nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.
Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana
Sultan Mahmud.
Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan
merupakan kebetulan belaka.
Syarif Abdullah/Sultan Mahmud adalah adik ipar dari Syekh
Datul Kahfi.
Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana
Magribi merupakan utusan utusan dari Persia
yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak
langsung untuk menyebarkan Agama Islam diluar jazirah Arab.
Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan
beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk
di luar jazirah Arab.
Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuangan dakwah
tersebut.
Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab
mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap
menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.
Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah
pula dengan penduduk lokal.
Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah
skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian
hari.
Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas
Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka. Para
pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari
pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang
Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,
dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil
mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan
cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru.
Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan
keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang
keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak
memiliki legitimasi.
Pada tahun 1448 M,
Syarifah Mudaim yang dalam keadaan hamil tua menunaikan
ibadah haji kembali.
Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota
Mekah.
Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif
Hidayat.
Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di
negara ayahnya, Mesir.
Syarif Hidayat tumbuh menjadi pemuda yang cerdas.
Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam.
Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama
Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.
Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab. Dari
kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim,
berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah
telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara
diam-diam, melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah,
hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada
Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan.
Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat hendak berguru kepada
Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.
Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah,
berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan
tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin.
Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para
guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori.
Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu
hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif
Hidayat diberi nama Madkurullah.
Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut
ilmu tawasul rasul pada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i di
Bagdad.
Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr
(Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah,
dzikir jiarah, bermeditasi, riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat
suci.
Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.
Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk
menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal.
Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk
menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana.
Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman
Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.
Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan
Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti.
Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya
ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal
di Paseh (Pasei).
Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama
dua tahun, yaitu Sayid Ishaq
bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam
di Paseh di Sumatra.
Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di
negeri Banten.
Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena
Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di
gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.
Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru
pada Syekh Sidiq di Surandil jati wisik (ajaran sejati), ba’iyat serta muhal
maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah, Anapsiah,
dan Jaujiyah Makomat Pitu serta melakukan kanaat dan uzlah.
Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah
(Syekh Quro) di Gunung Gundul.
Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi.
Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak
mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual.
Kemudian ia diperintahkan berguru pada Syekh Bahrul al
Amien, yang tinggal di sebelah utara Kudus.
Syarif hidayat berguru mengenai sifat-sifat jati (baca :
sempurna), rasa jati (sejatine rasa), khofiyah, dukiyah, sarariyah (rasa yang
sejati) ranaban. Belajar mengenai Sirrullah, ya hati ya badan, ya badan, ya
roh, ya badan ya nyawa, nyawa adalah wujud tunggalnya Dzatullah (ibarat
punglu).
Rasa yang sejati, rasa goib, yang tidak ada antara dengan
yang agung, ya badan ya rasa, ibarat jambe/ pinang yang menyatu antara kulit
dengan buahnya.
Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat
dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif Hidayat menambah pengetahuan tentang
pada Sunan Ampel Denta.
Maka berangkatlah Syarif Hidayat pergi ke Ngampel dengan
naik perahu milik orang Jawa Timur.
Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang
tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.
Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi
menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka
Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh
anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan
Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga.
Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai
ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.
Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ,
mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di
daerah yang menganut agama Siwa- Budha.
Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel.
Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :
“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku
ingkang ala.lawan putra ya den wani ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti.
Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring
sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis
sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa
dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon.
Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab
lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris.
Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing
amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.
ARTINYA:
(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu
adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah,
tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara.
Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya
anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama
uwakmu.
Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon,
itulah warisanmu.
Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungai Cipamali hingga
Blambangan itu bukanlah warisanmu.
Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang
ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan).
Demikianlah pesan sang guru.
Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung
Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang
menjadi Kuwu Carbon kedua.
Syarif Hidayat menuruti nasehat Sunan Ampel.
Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan
Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah
sembilan puluh delapan orang.
Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi
pengikut Syarif Hidayat yang setia.
Setibanya di Carbon Syarif Hidayat kemudian membangun pondok
dan menjadi guru agama Islam.
Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan
menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan.
Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun
karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia.
Kemudian Syarif Hidayatullah menikah dengan Syaripah Bagdad,
putri Syekh Datul Kahfi.
Syekh Maulana Magribi terkenal karena berhasil memotong
rambut Syekh Magelung Sakti, sehingga Syekh Magelung Sakti dengan sukarela
bersedia memeluk Agama Islam dan menjadi murid Syekh Maulana Magribi.
Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat : (Yuganing
Rajakawasa). Cetakan Pertama : Bandung. CV. Geger Sunten. Hal 256
Bukit Tursina merupakan bukit suci tempat Nabi Musa as
menerima Ten of Commandement (sepuluh perintah Tuhan).menjadi pemimpin di tanah
Jawa berlatar belakang
Nyi Mas Ratu Rarasantang meminta salah seorang putranya agar
menjadi pemimpin di tanah Jawa berlatar belakang kesedihan terhadap ayahnya,
Prabu Siliwangi, keluarganya dan rakyat Padjajaran yang memeluk agama Hindu
pasca ibundanya, Nyi Mas Ratu
Subangkarancang meninggal dunia. Keinginan Nyi Mas Ratu
Rarasantang tersebut terdapat dalam Sinom Serat Catur Kanda hal 10-11.
Perjanjian tersebut belatar belakang pula dari
nasehat-nasehat yang diterima oleh Nyi Mas Ratu Rarasantang pada saat bertemu
Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi yang secara tidak
langsung mensugestinya.
Ada kemungkinan pula mereka telah dijodohkan.
Carita Purwaka Caruban Nagari, Parwa I Sargah 3, hal 166.
Syekh Quro diperintahkan oleh Kerajaan Campa yang saat itu
telah memiliki hubungan dengan Persia (Iran)
Syatoriyah berkembang di Mandu, India (sebelah timur
Gujarat) dengan pesat setelah dipopulerkan oleh Abdullah Syatori, yang wafat di
India pada 1236 M (633 H).
Ia adalah keturunan Syekh Syihabuddin Suhrawardi yang
dikirim oleh gurunya, Syekh Muhammad Arif, ke India. Berdasarkan informasi ini
kemungkinan Abdullah Syatori lahir dan menjalani masa pendidikannya di Persia.
Pustaka Negara Kertabhumi hal. 133
Sayyid Ishaq merupakan saudara sepupu Syekh Nurjati yang
menikah dengan Ratu Blambangan.
Tarekat Jaujiyah didirikan oleh Ibnu Qayim al
Jauziyah(691-751 H) atau Muhammad Abi Bakar bin Ayub Sa’ad bin Harist al Zar’I
Damsyqi Abu Abdullah Syamsuddin, dilahirkan di kota Damaskus.
Langganan:
Postingan (Atom)
