CIKAL BAKAL WALI QUTUB CIREBON SYARIF HIDAYAT.
Awal Lahirnya Pangeran Walangsungsang
Pada tahun ± 200 SM telah terjadi perpindahan bangsa tiga
kali ke Indonesia, yang terakhir terjadi perpindahan bangsa keling berjumlah
sekitar 20.000 keluarga yang dipimpin langsung oleh seorang pendeta dari
Bizantium (kerajaan Romawi Timur), ibu kota Constantinopel (Istambul) orang
Jawa menyebutnya Roma Turki.
Mereka mendarat di beberapa daerah di Jawa Barat di
antaranya Teluk Jakarta, Pulau Gadung, yang sekarang menjadi ibu kota negara
Republik Indonesia, di pinggir-pinggir kali Cisadane dan Citarum Bogor, dan di
Pesambangan Gunung Jati Cirebon Desa Jatimerta di Muarajati (Alas Konda), di
teluk Banten, dan Pelabuhan Ratu daerah Rawalakbok, Banjar dan Ciamis. Proses penyebaran
penduduk imigran ini terjadi pada tahun ± 87 M yang diawali tahun 1 (satu)
Babad Zaman (Ano Jawa).
Kemudian seiring waktu dengan perjalanan waktu ± 363 tahun
lamanya, laju pertumbuhan penduduk kian hari berkembang dengan pesat hingga
pada tahun 450 M di Jawa Barat berdirilah sebuah kerajaan Taruma Negara yang
terletak di daerah Cisadane Bogor. Raja tersebut bernama Purnawarman yang
tertulis pada sebuah prasasti di sungai Cisadane.[2]
Disusul kemudian pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula
kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang
diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada
petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi
Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.
Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan
oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan
memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya
adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian
secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:
Prabu Linggahiang
Prabu Linggawesi
Prabu Wastukancana
Prabu Susuk Tunggal
Prabu Banyak Larang
Prabu Banyakwangi
Prabu Anggalarang
Prabu Mundingkawati
Prabu Siliwangi
Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama
Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia
mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri
Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas
Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:
Pangeran Walangsungsang (1423 M)
Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M)
Pangeran Raja Sengara (1429 M)
Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad /
membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.
Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran
ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang
yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.
Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M
keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu,
pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya
beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia
di dunia dan akhirat. Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas
Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk
berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun
gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi
yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis
Timur.
Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu
kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana.
Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia
menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala
malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy
dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi
wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi
Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan
akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub. Ratu Mas
Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu
ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang
terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.
Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang
ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia
menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi.
Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan
terkejut. Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati,
dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan juga para pembesar
kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih
Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang ,
disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala
menjawab: “Sendika Gusti.”
Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan
kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang ggeger dan panik,
lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan
bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara
memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar
ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang
dua putra mahkota Pajajaran.
-------------------------------------------------
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana dengan gelar raja muda.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari
dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya
diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut
Caruban yang artinya campuran.
Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry
produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam.
Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan
darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap
dengan angkatan bersenjatanya. Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi
pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung
Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada
Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk
membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan
dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan
diteruskan oleh anak dari adiknya,
Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat.
Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka
agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui
berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro,
Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.
Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam
pertemuan tersebut.
Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa
kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang
bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon.
Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.
Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran
Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi
Syekh Maulana Magribi menolak untuk menjadi guru mereka.
Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada
Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi.
Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan
bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan
ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana,
kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.
Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi
tersebut terekam dalam Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.
Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian
menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada
tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan
keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya
kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu
Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan
lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama
Sunda.
Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang
Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.
Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan
oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang
merupakan cikal bakal kota Cirebon.
Pada tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka
atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan
1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52
orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir.
Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi
pedukuhan yang maju.
Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan
Rukun Islam kelima.
Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah
Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji
Abdullah Iman.
Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan
Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut,
Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota
Ismailiyah, Palestina.
Maulana Sultan Mahmud/Syarif Abdullah, yang baru saja
ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang.
Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan
mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran
Cakrabuana dan patih Jalalluddin.
Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang.
Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina
terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar
dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh.
Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu
Rarasantang bersedia dinikahi oleh Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia
melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin
agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.
Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang
Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang.
Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut.
Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian
tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka
dengan Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.
Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan
nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.
Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana
Sultan Mahmud.
Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan
merupakan kebetulan belaka.
Syarif Abdullah/Sultan Mahmud adalah adik ipar dari Syekh
Datul Kahfi.
Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana
Magribi merupakan utusan utusan dari Persia
yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak
langsung untuk menyebarkan Agama Islam diluar jazirah Arab.
Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan
beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk
di luar jazirah Arab.
Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuangan dakwah
tersebut.
Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab
mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap
menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.
Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah
pula dengan penduduk lokal.
Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah
skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian
hari.
Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas
Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka. Para
pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari
pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang
Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,
dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil
mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan
cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru.
Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan
keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang
keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak
memiliki legitimasi.
Pada tahun 1448 M,
Syarifah Mudaim yang dalam keadaan hamil tua menunaikan
ibadah haji kembali.
Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota
Mekah.
Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif
Hidayat.
Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di
negara ayahnya, Mesir.
Syarif Hidayat tumbuh menjadi pemuda yang cerdas.
Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam.
Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama
Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.
Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab. Dari
kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim,
berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah
telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara
diam-diam, melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah,
hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada
Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan.
Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat hendak berguru kepada
Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.
Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah,
berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan
tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin.
Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para
guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori.
Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu
hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif
Hidayat diberi nama Madkurullah.
Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut
ilmu tawasul rasul pada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i di
Bagdad.
Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr
(Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah,
dzikir jiarah, bermeditasi, riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat
suci.
Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.
Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk
menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal.
Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk
menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana.
Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman
Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.
Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan
Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti.
Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya
ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal
di Paseh (Pasei).
Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama
dua tahun, yaitu Sayid Ishaq
bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam
di Paseh di Sumatra.
Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di
negeri Banten.
Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena
Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di
gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.
Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru
pada Syekh Sidiq di Surandil jati wisik (ajaran sejati), ba’iyat serta muhal
maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah, Anapsiah,
dan Jaujiyah Makomat Pitu serta melakukan kanaat dan uzlah.
Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah
(Syekh Quro) di Gunung Gundul.
Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi.
Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak
mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual.
Kemudian ia diperintahkan berguru pada Syekh Bahrul al
Amien, yang tinggal di sebelah utara Kudus.
Syarif hidayat berguru mengenai sifat-sifat jati (baca :
sempurna), rasa jati (sejatine rasa), khofiyah, dukiyah, sarariyah (rasa yang
sejati) ranaban. Belajar mengenai Sirrullah, ya hati ya badan, ya badan, ya
roh, ya badan ya nyawa, nyawa adalah wujud tunggalnya Dzatullah (ibarat
punglu).
Rasa yang sejati, rasa goib, yang tidak ada antara dengan
yang agung, ya badan ya rasa, ibarat jambe/ pinang yang menyatu antara kulit
dengan buahnya.
Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat
dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif Hidayat menambah pengetahuan tentang
pada Sunan Ampel Denta.
Maka berangkatlah Syarif Hidayat pergi ke Ngampel dengan
naik perahu milik orang Jawa Timur.
Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang
tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.
Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi
menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka
Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh
anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan
Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga.
Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai
ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.
Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ,
mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di
daerah yang menganut agama Siwa- Budha.
Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel.
Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :
“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku
ingkang ala.lawan putra ya den wani ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti.
Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring
sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis
sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa
dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon.
Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab
lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris.
Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing
amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.
ARTINYA:
(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu
adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah,
tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara.
Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya
anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama
uwakmu.
Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon,
itulah warisanmu.
Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungai Cipamali hingga
Blambangan itu bukanlah warisanmu.
Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang
ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan).
Demikianlah pesan sang guru.
Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung
Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang
menjadi Kuwu Carbon kedua.
Syarif Hidayat menuruti nasehat Sunan Ampel.
Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan
Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah
sembilan puluh delapan orang.
Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi
pengikut Syarif Hidayat yang setia.
Setibanya di Carbon Syarif Hidayat kemudian membangun pondok
dan menjadi guru agama Islam.
Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan
menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan.
Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun
karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia.
Kemudian Syarif Hidayatullah menikah dengan Syaripah Bagdad,
putri Syekh Datul Kahfi.
Syekh Maulana Magribi terkenal karena berhasil memotong
rambut Syekh Magelung Sakti, sehingga Syekh Magelung Sakti dengan sukarela
bersedia memeluk Agama Islam dan menjadi murid Syekh Maulana Magribi.
Yoseph Iskandar. 1997. Sejarah Jawa Barat : (Yuganing
Rajakawasa). Cetakan Pertama : Bandung. CV. Geger Sunten. Hal 256
Bukit Tursina merupakan bukit suci tempat Nabi Musa as
menerima Ten of Commandement (sepuluh perintah Tuhan).menjadi pemimpin di tanah
Jawa berlatar belakang
Nyi Mas Ratu Rarasantang meminta salah seorang putranya agar
menjadi pemimpin di tanah Jawa berlatar belakang kesedihan terhadap ayahnya,
Prabu Siliwangi, keluarganya dan rakyat Padjajaran yang memeluk agama Hindu
pasca ibundanya, Nyi Mas Ratu
Subangkarancang meninggal dunia. Keinginan Nyi Mas Ratu
Rarasantang tersebut terdapat dalam Sinom Serat Catur Kanda hal 10-11.
Perjanjian tersebut belatar belakang pula dari
nasehat-nasehat yang diterima oleh Nyi Mas Ratu Rarasantang pada saat bertemu
Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi yang secara tidak
langsung mensugestinya.
Ada kemungkinan pula mereka telah dijodohkan.
Carita Purwaka Caruban Nagari, Parwa I Sargah 3, hal 166.
Syekh Quro diperintahkan oleh Kerajaan Campa yang saat itu
telah memiliki hubungan dengan Persia (Iran)
Syatoriyah berkembang di Mandu, India (sebelah timur
Gujarat) dengan pesat setelah dipopulerkan oleh Abdullah Syatori, yang wafat di
India pada 1236 M (633 H).
Ia adalah keturunan Syekh Syihabuddin Suhrawardi yang
dikirim oleh gurunya, Syekh Muhammad Arif, ke India. Berdasarkan informasi ini
kemungkinan Abdullah Syatori lahir dan menjalani masa pendidikannya di Persia.
Pustaka Negara Kertabhumi hal. 133
Sayyid Ishaq merupakan saudara sepupu Syekh Nurjati yang
menikah dengan Ratu Blambangan.
Tarekat Jaujiyah didirikan oleh Ibnu Qayim al
Jauziyah(691-751 H) atau Muhammad Abi Bakar bin Ayub Sa’ad bin Harist al Zar’I
Damsyqi Abu Abdullah Syamsuddin, dilahirkan di kota Damaskus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar