Jumat, 10 Januari 2020

Kata-kata

Dalam filsafat Aristoteles dijelaskan bahwa "berpikir" merupakan essensi manusia. Pikiran manusia itu diwujudkan dalam bentuk susunan kata-kata. Tidak ada makhluk lain yang dapat berbicara menggunakan kata-kata seperti manusia. Binatang-binatang berkomunikasi satu sama lain dengan menggunakan isyarat berupa gerak tubuh atau bunyi. Gerak tubuh dan bunyi tersebut tidak membentuk kata serta tidak dapat digunakan untuk memberi nama sesuatu.

Contohnya dapat dilihat pada perilaku kucing ketika ia memanggil anak-anaknya. Saya mengamati, ketika induk kucing menangkap seekor tikus, induk kucing tersebut mengeong dengan nada memanggil anak-anaknya. Anak-anaknya berlarian mendekati induk kucing. Dengan nada panggilan itu, anak-anak kucing mengerti bahwa induknya memanggil untuk makan.  Ini menunjukan kemampuan kucing berkomunikasi menggunakan bunyi.

Tetapi bukti bahwa bunyi itu bukanlah kata, adalah induk kucing tersebut tidak dapat membuat bunyi yang membedakan panggilan masing-masing anak kucing. Dengan kata lain induk kucing tidak dapat memberi nama pada masing-masing anaknya. Dia hanya mengenali anaknya dari aroma, dari bentuk, dan dari gerak-gerik, bukan dari nama. Kemampuan menamai sesuatu, hanya dimiliki oleh makhluk yang disebut "manusia".

Kata dan Nama adalah dua hal yang identik. Dengan menamai segala sesuatu, maka wujudlah kata-kata. Dan dengan kata-kata itu manusia dapat mengisahkan perbedaan nama-nama. Manusia bisa bercerita tentang masa lalu ataupun masa depan. Apakah hal itu dapat dilakukan oleh binatang seperti semut ?

Kita dapat melihat semut satu sama lain saling bertukar informasi tentang di mana mereka menemukan makanan. Namun informasi itu disampaikan satu sama lain tidak melalui kata, melainkan melalui aroma atau rasa. Semut atau binatang lainnya dapat memberikan suatu informasi kepada teman-temannya, namun tidak dapat berkisah. Mereka memilik ingatan tentang masa lalu, tapi tidak dapat menceritakannya. Tetapi manusia melalui kata-kata dapat mengungkapkan sebuah kisah dari apa yang diingatnya dari masa lalu.

Seekor ular yang dipukul, akan mengingat terus wajah orang yang memukulnya hingga bertahun-tahun kemudian. Tapi tidak ada ular yang bercerita pada temannya, bahwa semingu lalu dia pernah dipukul orang. Ini menunjukan bahwa binatang tidak memiliki perangkat untuk mengisahkan sesuatu, yaitu "Kata-kata".

Kemampuan berkata-kata yang membuat manusia memiliki keunggulan dari makhluk-makhluk lain, juga kemmpuan itu dapat membuat manusia menjadi lebih rendah dari makhluk lain. Karena melalui kata-kata manusia dapat melakukan sesuatu yang lebih kejam dari pembunuhan, yaitu fitnah, bohong dan hasut. Hewan, karena tidak memiliki kemampuan berbicara, tidak dapat melakukan hal-hal jahat seperti yang dilakukan oleh manusia itu. Tidak ada seekor banteng yang dapat melakukan sebuah konspirasi politik, tidak ada monyet yang menyebarkan berita hoax, serta tidak ada seekor kucing yang menghasut teman-temannya. Karena kemampuan berkata-kata itu, manusia memiliki  potensi untuk lebih unggul dari binatang dan juga potensi untuk menjadi lebih rendah darinya.


Ada binatang yang mampu mengelabui mangsanya, berpura-pura menjadi pohon dengan mengubah warna kulitnya serupa dengan warna pohon, contohnya bunglon. Apakah ini artinya bunglon bisa berdusta ? Tidak. Jika manusia menyamar, dia sadar bahwa dia sedang membohongi orang lain. Tidak ada kesadaran semacam itu pada binatang seperti bunglon, mereka tidak menyadari adanya kepalsuan, karena memang bukan kepalsuan. Amati perubahan warna pada bunglon itu, tidak bergantung pada mangsa. Jika dia berada di antara dedaunan hijau, maka tubuhnya menjadi hijau tidak peduli apakah ada mangsa atau tidak. Jadi perubahan warna itu sudah meruapakan tabiat bunglon berdasarkan warna dominan di sekitarnya, bukan untuk membohongi siapapun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar